CURHAT

CURHAT
Mengapa kau berhenti, Nak?


Pendidikan terhadap anak itu tanggung jawab orangtua. Guru bisa menjadi salah satu media dan sumber belajar yang bisa diajak oleh orangtua untuk berkolaborasi mendidik buah hatinya. Bukan mutlak tanggungjawab guru semata ya.

Adapun membangun suasana belajar di sekolah memang tugas guru. Namun, orangtua juga wajib memonitor suasana belajar anak di rumah. Jangan njomplang. Jangan nge gap. Jangan berbeda alur, visi, dan misi. Kalaupun berbeda fasilitas, sarana, dan prasarana, itu bukan hal important untuk membangun suasana belajar. Lahir batin anak harus terus disupply dengan ruh-ruh dan nafas pendidikan.

Jiwa guru akan terusik jika orangtua kurang ngeuh dengan apa yang dibutuhkan anaknya. Batin guru akan terluka ketika kebutuhan pendidikan anak diabaikan orangtuanya. Guru bisa apa? Jika orangtua berkata No. Anak menginginkan Yes. Memoderatori, sudah. Memfasilitasi, sudah. Tapi kekuatan guru tidak sepowerfull orangtuanya. Sehingga riak-riak sedih menghiasi relung batin guru, itu pasti. Gagal kah aku? Tak becus kah aku? Di mana salahku? Mengapa mereka tak paham juga? ____ dan berderet pertanyaan yang hanya bisa diiringi desahan nafas.

Buat anakku yang terpaksa harus berhenti dan bekerja, doa ku sebagai gurumu, semoga takdir baik selalu mengiringi langkahmu. Jangan salahkan gurumu ya, jika kelak kau ditanya Alloh, kenapa kau tak pecut dirimu tuk tholabul 'ilmi di jenjang berikutnya. Gurumu dah berusaha semampunya, walaupun takdirnya, kau memilih pilihan orangtua untuk bekerja.

Doa tulus dari gurumu...
Cikampek, 11 Juli 2018.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Punya TV Ga Wajib Lo...

Mengenang jaman ABG

Melihat Pelaksanaan Full Day School